Showing posts with label Konspirasi. Show all posts
Showing posts with label Konspirasi. Show all posts

Wednesday, December 27, 2017

Polemik Jerusalem (Bagian III); Bahaya Laten Pembentukan Israel Raya




Di dunia Maya (sosmed) hingga Sampai di dunia nyata (ruang publik) seperti warung kopi, masih menjadi pembicaraan hangat semua kalangan atas apa hal yang tersirat dari langkah Presiden Trump yang memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem?

kebijakan Donald Trump terkait polemik Jerusalem harus dibaca dari rencana besar pembentukan “Israel Raya” yang merupakan titik tolak faksi Zionis yang kuat di dalam pemerintahan Netanyahu saat ini, partai Likud, dan juga di dalam badan militer dan intelijen Israel.

Maka bukan tanpa alasan kalau Trump secara sepihak menegaskan dukungannya terhadap permukiman ilegal Israel (termasuk penentangannya terhadap Resolusi 2334 oleh Dewan Keamanan PBB, yang berkaitan dengan ilegalitas permukiman Israel di Tepi Barat).

Selain itu, dengan memindahkan Kedutaan Besar A.S. ke Yerusalem dan mengizinkan perluasan permukiman Israel di wilayah-wilayah pendudukan dan sekitarnya, presiden AS telah memberikan dukungan de facto terhadap proyek “Israel Raya”.

Ada kemungkinan desain ini tidak sepenuhnya merupakan Proyek Zionis untuk Timur Tengah, ini adalah bagian integral dari kebijakan luar negeri AS, yaitu maksud Washington untuk memecah dan memporakporandakan Timur Tengah. Keputusan Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dimaksudkan untuk memicu ketidakstabilan politik dan ekonomi di seluruh wilayah.

“wilayah Negara Yahudi membentang, Dari Sungai Mesir sampai sungai Efrat. Tanah yang Dijanjikan memanjang dari Sungai Mesir sampai ke Efrat, itu termasuk bagian Suriah dan Lebanon.” Theodore Herzl, Pendiri Zionisme.

Jika dilihat dalam konteks saat ini, Rencana Zionis untuk Timur Tengah berkaitan erat dengan invasi AS ke Irak pada tahun 2003, perang 2006 di Lebanon, perang 2011 di Libya, perang yang sedang berlangsung di Suriah, Irak dan Yaman, belum lagi krisis politik di Arab Saudi.

Proyek “Israel Raya” bertujuan untuk melemahkan dan akhirnya membuat negara-negara Arab tetangga menjadi bagian dari proyek ekspansionis AS-Israel, dengan dukungan NATO dan Arab Saudi. Dalam kaitan ini, pendekatan yang dilakukan oleh Saudi-Israel berasal dari sudut pandang Netanyahu sebagai sarana untuk memperluas wilayah pengaruh Israel di Timur Tengah, termasuk juga dalam menghadapi Iran. Tak perlu diragukan lagi, proyek “Israel Raya” konsisten dengan desain kekaisaran Amerika.

“Israel Raya” terdiri dari daerah yang membentang dari Lembah Nil sampai ke Efrat. Menurut Stephen Lendman, “Sekitar satu abad yang lalu, rencana Organisasi Zionis Dunia untuk sebuah negara Yahudi termasuk: Palestina yang bersejarah; Lebanon Selatan sampai Sidon dan Sungai Litani; Dataran Tinggi Golan Syria, Dataran Tinggi Hauran dan Deraa; dan tentu mengendalikan Kereta Api Hijaz dari Deraa ke Amman, Yordania dan juga Teluk Aqaba.

Sejumlah Zionis menginginkan lebih atas tanah dari Sungai Nil di Barat sampai ke Sungai Efrat di Timur, yang terdiri dari Palestina, Lebanon, Suriah Barat dan Turki Selatan.”

Proyek Zionis mendukung gerakan permukiman Yahudi. Secara lebih luas, ini melibatkan sebuah kebijakan untuk mengecualikan orang-orang Palestina dari negerinya hingga mengarah pada aneksasi terakhir, yaitu Tepi Barat dan Gaza ke Negara Israel.

Israel Raya akan menciptakan sejumlah negara proxy di sejumlah negara seperti Lebanon, Yordania, Suriah, Sinai, serta bagian Irak dan Arab Saudi.

Ahli strategi Israel memandang Irak sebagai tantangan strategis terbesar mereka dari negara Arab. Itulah sebabnya mengapa Irak dijadikan pusat untuk balkanisasi Timur Tengah dan Dunia Arab. Di Irak, ahli strategi Israel telah meminta pembagian Irak ke negara Kurdi dan dua negara Arab, satu untuk Muslim Syiah dan yang lainnya untuk Muslim Sunni. Langkah pertama untuk membangun ini adalah perang antara Irak dan Iran, yang memang sudah dalam skenario.

Pembentukan “Israel Raya” mensyaratkan terputusnya negara-negara Arab yang ada menjadi negara-negara kecil.

“Rencana tersebut beroperasi pada dua premis penting. Untuk bertahan hidup, Israel harus: 1) menjadi kekuatan regional imperial, dan 2) harus mempengaruhi pembagian seluruh wilayah menjadi negara-negara kecil dengan memcah belah semua negara Arab yang ada. 

Kemungkinan kecil disini kalau tergantung pada komposisi etnis atau sektarian masing-masing negara. Akibatnya, harapan Zionis adalah bahwa negara-negara berbasis sektarian menjadi satelit Israel dan, ironisnya, menjadi sumber legitimasi moralnya. Ini bukan ide baru, dan juga tidak muncul untuk pertama kalinya dalam pemikiran strategis Zionis. Memang, memecah-belah semua negara Arab menjadi unit-unit yang lebih kecil telah menjadi tema yang berulang.”

Dilihat dalam konteks ini, perang Suriah dan Irak merupakan bagian dari proses ekspansi teritorial Israel.

Dalam hal ini, yang perlu menjadi catatan adalah bahwa kekalahan teroris yang disponsori AS (ISIS, Al Nusra) oleh Pasukan Suriah dengan dukungan Rusia, Iran dan Hizbullah merupakan kemunduran yang signifikan bagi Israel.

Friday, December 22, 2017

Polemik Jerusalem (Bagian II); 7 Hubungan Mesra Indonesia-Israel



Polemik pasca diakuinya Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh presiden Amerika Serikat, Donal Trump menuai kritikan tajam oleh negara-negara Islam salah satunya Indonesia. Walaupun beberapa saat yang lalu, dalam sidang majelis umum PBB yang dihadiri 128 negara, AS dan Israel kalah telak atas Pengklaiman Yerusalem sebagai Ibukota Israel melalui voting.

Di Indonesia sendiri, yang mayoritas penduduknya beragama muslim tidak tinggal diam atas Pengklaiman sepihak yang dilakukan oleh Donald Trump. Sejumlah aksi penolakan dilakukan oleh penduduk Indonesia, dari pembakaran bendera Amerika-Israel sampai pemboikotan produk-produk dari kedua negara tersebut.

Jika dikaji lebih dalam, ada sedikit anekdot antara Isreal dan Indonesia sendiri. Hubungan mesra antara Indonesia dan Israel dari orde lama hingga era reformasi terus berlanjut.

Berikut 7 (tujuh) informasi penting yang menggambarkan latar belakang hubungan Israel- Indonesia yang perlu diketahui.

1. Tahun 1993 PM Israel Yitzhak Rabin bertemu Presiden Soeharto dengan difasilitasi Jendral TNI Benny Murdani.

2. Tahun 1994 Ketua Umum PB NU Abdulrrahman Wahid mengunjungi Israel.

3. Tahun 2000 Ditandatangani Kerjasama asuransi kredit ekspor antara PT Auransi Jassindo dengan Assure Limited Of Israel untuk memberi asuransi kredit ekspor baik kepada perusahaan Israel maupun Indonesia, di antaranya Bakrie Group

4. Perdagangan antara Indonesia-Israel saat ini bernilai sekitar USD 400-500 juta per tahun. Indonesia mengekspor komoditas dan mengimpor barang2 teknologi tinggi dari Isarel.

5. Tahun 2002 didirikan Indonesia-Israel Public Affairs Committee (IIPAC) dan sudah memiliki 4,450 anggota serta telah membentuk business lobby. Pembentukan IIPAC dibantu seorang Indonesia keturunan Yahudi, Benyamin Ketang yang belajar di Israel dengan beasiswa dari Presiden Abdurahman Wahid, Benyamin pada saat itu adalah warga Nahdatul Ulama (NU) dan adalah anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesoia (PMII).

6. Kunjungan Menteri Ekonomi Israel Naftalli Bennett ke Konperensi World Trade Organization (WTO) di BalitTahun 2013 dan telah membuat kesepakatan perdagangan dengan pejabat-pejabat Indonesia.

7. Kunjungan rahasia (secret visit) para pejabat Indonesia ke Knesset (Parlemen Israel) di tahun 2014. 

Itulah 7 (tujuh) informasi hubungan mesra antara Indonesia dan Isreal. Ada sedikit pertanyaan yang hadir saat ini, mengapa presiden Jokowi jika memang tidak terima dan seolah marah atas tindakan yang dilakukan Israel terhadap Palestina sampai detik ini hanya sekedar mengecam kebijakan Amerika terkhusus Israel? Sedang, produk-produk dari Ameriak-Israel menyebar bagaikan rumput liar di bumi Pertiwi ini. . .

Tuesday, December 19, 2017

Polemik Jerusalem (Bagian I); Manuver Awal Donald Trump

Negara-negara yang bergabung di PBB sebagai Dewan Kehormatan

Gaduh di alam maya juga di dunia nyata. Dari media sosial hingga ke warung kopi. Kegaduhan itu berasal atas klaim Donald Trump terkait Jerusalem beberapa hari yang lalu. Ini mirip kasus Ahok dulu yang menista Al Maidah 51 di Jakarta, langkah Trump berpola sama dengan kasus Ahok cuma ia berskala global, yaitu menyentuh ‘ruang’ yang sangat disakralkan oleh umat Islam: “Sentimen keagamaan”. Akan tetapi kita tak boleh larut dalam bahasan sentimen dimaksud. Kenapa? Klaim itu cuma isu atau pemicu. Ibarat seseorang yang ingin memasuki rumah seseorang tapi hanya sebatas mengetuk pintu saja.

Terkait langkah Trump, ada dua asumsi, pertanyaannya, “Itu isu sebagai pola atau isu sebagai metode?” Jika sebagai metode maka sifatnya mengetes. Meski memancing reaksi publik, sekurang-kurangnya ia bisa mapping kekuatan baru. Mengetahui, Siapa lawan, dimana kawan atau mana abu-abu.

Kelompok Trump mungkin membaca, ada arus kencang di dunia Islam. Mereka ingin melihat, arus ini riil atau cuma framing media. Mereka menyelam dalam pusaran kebangkitan. Artinya, jika akhirnya Trump membatalkan klaim atas Jerusalem, boleh ditebak arus kebangkitan itu sungguh nyata lagi luar biasa. Bisa jadi, klaim itu dicabut kembali, ataupun isu Jerusalem terus dilanjutkan namun dibarengi upaya-upaya pecah belah agar arus melemah. Ada keuntungan dan kelemahan memang, di satu sisi, ia mengantongi pemetaan blok baru dan sekutu baru, di sisi lain meretakkan bagunan hegemoni Paman Sam selaku “polisi dunia” apabila isu dicabut.

Masih dalam bahasan isu sebagai metode, ada hal di luar prediksi. Ya. Bila blunder Ahok menimbukan arus kebangkitan kaum muslim di Indonesia, bisa jadi klaim Trump atas Jerusalam justru memunculkan gelombang kebangkitan Islam berskala global?

Sekarang kita bahas isu sebagai pola. Sebagai pola, isu sifatnya cuma awalan saja. Pintu pembuka. Setelah itu akan diluncurkan tema atau agenda, dan terakhir ditancapkan skema. 

Dalam isu sebagai pola, agenda berikutnya adalah langkah pasti. Artinya, entah isu yang ditebar menimbulkan protes keras atau penolakan disana-sini. Tak masalah. Publik tidak lagi disuguhi berita tetapi telah dicekoki agenda. Seperti peristiwa 9-11/WTC contohnya atau isu senjata pemusnah massal di Irak dulu. Disitu tampak jelas pagelaran “isu sebagai pola.” Kenapa? Sebab langkahnya pasti meski menuai protes disana-sini. Apabila (isu) 9-11 agendanya menyerbu Afghanistan secara militer, sedang isu senjata pemusnah massal agendanya menggempur Irak. Skema keduanya, ternyata sama yakni kavling-kavling pada wilayah ekonomi (ladang-ladang minyak dan gas) di Irak dan Afghanistan. Itulah isu sebagai pola dimana isu – tema/agenda – skema (ITS) berjalan pasti.

Pertanyaannya kini, “Apakah klaim Trump atas Jerusalem itu dianggap isu sebagai metode atau isu sebagai pola yang memiliki hidden agenda?”. . .

Wednesday, November 8, 2017

Dalang Di Balik Eksploitasi SDA dan SDM Dunia Ketiga

Tenaga kerja ada sebelum dan tidak terikat pada modal.
Modal merupakan hasil dari tenaga kerja, dan tidak akan pernah ada apabila tenaga kerja tidak ada.
Buruh lebih penting daripada modal dan harus mendapatkan perhatian yang lebih besar. Abraham Lincoln

Dalam sejarah kehidupan bangsa-bangsa, gejala seperti yang sedang dialami oleh bangsa kita juga pernah dialami oleh bangsa-bangsa lain. Karena faktor-faktor yang tidak selalu sama, dalam kurun waktu tertentu yang bisa panjang atau pendek, sebuah bangsa dapat mengalami kemerosotan dalam segala aspek dan segala bidang kehidupan. Gejala seperti ini disebut malaise atau melt down. Karena faktor-faktor yang juga tidak sama buat setiap bangsa, banyak bangsa yang mencapai titik kemerosotan yang terendah atau titik balik, yang disebut pencerahan atau aufklarung. Titik balik ini diikuti dengan awal masa jaya dalam segala bidang, yang disebut rennaisance.

Kehidupan berbangsa dan bernegara menyangkut sangat banyak aspek, karena praktis menyangkut semua aspek kehidupan manusia. Namun demikian tidak dapat dipungkiri bahwa ekonomi memegang peran penting dalam membawa keseluruhan bangsa pada kemakmuran dan kesejahteraan yang berkeadilan.

Kehidupan ekonomi suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dari aspek-aspek kehidupan lainnya yang bersifat non materi. Keduanya atau bahkan semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara saling berkaitan secara interdependen. Salah satu faktor yang dapat merusak kehidupan ekonomi suatu bangsa secara dahsyat ialah pengaruh interaksi dengan bangsa-bangsa lain, atau kekuatan-kekuatan yang ada di luar wilayah suatu negara tertentu seperti problem atau kasus yang terjadi di Indonesia.

Indonesia tempo doeloe mengalami penjajahan berabad-abad lamanya oleh Belanda yang diawali dengan “penjajahan” oleh sebuah perusahaan swasta, yaitu Vereenigde Oostindische Compagnie(VOC). Dimana negara di eksploitasi baik dari segi sumber daya alam maupun sumber daya manusianya (upah rendah) yang menyebabkan VOC sangat kaya, bagaikan sebuah negara yang mempunyai angkatan bersenjata sendiri yang memaksakan kehendaknya pada para penguasa Nusantara (Indonesia). Karena korupsi yang terjadi dalam tubuh VOC, akhirnya bangkrut, dan penjajahan atas wilayah Nederlands Indie diambil alih oleh pemerintah Belanda.

Awal abad 20 banyak sekali negara-negara yang terjajah berhasil mengusir negara-negara penjajah, menjadi negara merdeka. Salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang merebutnya kemerdekaan di tahun 1945 adalah Indonesia. Namun sejak dekade itu pula, langsung saja muncul benih-benih penguasaan kebijakan dan kekayaan alam negara-negara yang lemah, terbelakang dan tidak berpendidikan. Benih-benih dari kekuatan-kekuatan tersebut sekarang telah menjadi sebuah kekuatan raksasa yang dahsyat.

Bentuknya seperti VOC dahulu, yaitu perusahaan-perusahaan transnasional dan multinasional. Mereka adalah business corporations. Maka era yang sekarang merajalela disebut era corporatocracy. Para ahli Amerika Serikat dan Eropa Barat sendiri yang sangat banyak menggambarkan kekuatan dan kejahatan mereka terhadap bangsa-bangsa lebih lemah yang dijadikan mangsanya dalam penyedotan sumber-sumber daya apa saja, terutama sumber daya mineral.

Para ahli Amerika Serikat dan Eropa semisal Joseph Stiglitz, John Pilger, Jeffrey Winters, Bradley Simpson, John Perkins, dan 12 perusak ekonomi lainya telah mengakui kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan oleh para corporation. Kesemuanya dituangkan dalam buku paling mutakhir (2006) yang dikumpulkan dan di-edit oleh Steven Hiatt dengan kata pengantar oleh John Perkins. Judul bukunya “A Game as Old as Empire: The Secret World of Economic Hit Men and the Web of Global Corruption”.

Dari kesemuanya ini dapat kita baca bahwa di zaman setelah tidak ada negara jajahan lagi (kolonial), perusahaan-perusahaan raksasa yang transnasional itu bagaikan VOC tempo doeloe. Tetapi sekarang mereka tidak perlu melakukan penjajahan secara politik dan militer untuk menghisap kekayaan dari negara-negara dan bangsa-bangsa mangsanya. Sebab, cara-cara demikian sangat mahal dan dapatnya tidak seberapa dibandingkan dengan cara-cara yang mereka lakukan sekarang ini.

Cara-cara mereka sekarang hanya perlu memelihara elit bangsa-bangsa mangsa, dimana para elit bangsa walaupun secara politik dan secara formal berada di negara merdeka dan berdaulat. Akan tetapi, para elit bangsa dan anteknya-anteknya yang secara material maupun secara konsepsional didukung oleh corporatocracy global, bahkan lembaga internasional semisal IMF, WB, Bank Asia dll tidak terlepepas dari pengaruhnya. Hasilnya, bisa di pastikan, penghisapan kekayaan alam serta tenaga manusia menjadi sangat dahsyat dan menjadi harga mutlak.

Saturday, November 4, 2017

World Bank (Bank Dunia) "Empat Langkah Memperbudak Suatu Bangsa"

Lembaga ini tidak memiliki prinsip selain ketamakan dan tujuannya itu tidak akan berubah
selain hanya menarik semua kekayaan, kekuasaan dan memperbesar pengaruhnya terhadap negara"

William Findlay, Politikus Amerika Serikat


Para ekonom senantiasa membohongi publik bahwa resesi dan depresi adalah bagian alami dari siklus bisnis. Namun, kenyataan yang sebenarnya tidaklah seperti itu. Resesi dan depresi selalu terjadi bila Bank Sentral memanipulasi jumlah uang yang beredar, yang tujuan akhirnya adalah memastikan semakin banyak kekayaan yang ditransfer dari masyarakat ke tangan mereka. Bank Sentral sendiri merupakan metamorfosis dari pedagang uang di zaman dahulu.

Profesor Joseph Stiglitz, mantan Kepala Ekonom Bank Dunia, dan mantan Ketua Dewan Penasihat Ekonom Presiden Clinton, Menjadi terkenal karena "Strategi Empat Langkah" yang diciptakannya bagi Bank Dunia, untuk memperbudak bangsa melalui para bankir.

Adapun strategi empat langkah tersebut antara lain: (1) Privatisasi, privatisasi dilakukan dengan memberikan tawaran kepada para pemimpin nasional yang nantinya akan diberi komisi sebesar 10% yang ada di rekening rahasia bank Swiss sebagai bentuk pertukaran uang pemangkasan beberapa miliar dolar dari harga penjualan aset nasional. Suap dan Korupsi, murni dan sederhana; (2) Liberalisasi Pasar Modal, langkah ini dilakukan untuk membatalkan hukum pajak uang yang melebihi perbatasannya. Joseph E Stiglitz, The World Bank Research Observer, menyebutnya siklus "Uang Panas". Awalnya, kas masuk dari luar negeri untuk berspekulasi di real state dan mata uang. Maka ketika perekonomian di negara itu mulai terlihat menjanjikan, uang dari luar negeri ini akan langsung ditarik keluar negeri lagi, sehingga menyebabkan ekonomi runtuh. Bangsa dalam keadaan tersebut akan membutuhkan bantuan IMF. Lalu, IMF akan menyediakan dana tersebut dengan syarat bahwa mereka diperbolehkan menaikkan suku bunga di mana saja dari 30% menjadi 80%. Hal ini terjadi di Indonesia dan Brasil, Juga di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Latin lainnya. Suku bunga yang lebih tinggi berakibat negara menjadi miskin, menghancurkan nilai properti, membantai industri produksi, dan mengerinkan keuangan nasional; (3) Menentukan harga berdasarkan pasar. Di Sinilah harga makanan, air, gas, dll dinaikkan yang menyebabkan kerusuhan sosial di negara masing,masing, sekarang lebih dikenal sebagai "Kerusuhan IMF". Kerusuhan ini menyebabkan pemodal menarik modal mereka dan pemerintah menjadi bangkrut. Hal ini menguntungkan perusahaan-perusahaan asing karena aset yang tersisa dapat dibeli dengan harga terendah; (4) Sistem Perdagangan Bebas. Di sinilah perusahaan-perusahaan internasional meledak di kawasan Asia, Amerika Latin, Afrika, sementara pada saat yang sama Eropa dan Amerika Serikat membarikade pasar mereka sendiri terhadap produk pertanian Dunia Ketiga. Mereka juga mengenakan tarif yang melambung tinggi bagi negara-negara tersebut sehingga mereka harus membayar mahal obat-obatan bermerek yang menyebabkan lonjakan angka kematian dan penyebaran penyakit.

Ada banyak pecundang dalam sistem ini, dan pemenang atau yang merasakan dampak positif atau keuntungan hanyalah BANKIR dan para Pemimpin atau orang yang berpengaruh di negara target. Bahkan IMF dan Bank Dunia telah membuat perjanjian listrik, air, telepon, dan gas dijalankan dengan sistem yang mengkondisikan sebagai pinjaman untuk setiap negara berkembang. Nilainya diperkirakan setara dengan pendapatan perkapita negara di Dunia Ketiga.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia sendiri? Jika strategi "empat langkah" yang dilakukan World Bank dikaitkan dengan kondisi Indonesia saat ini. Maka, jawabannya sangat sederhana, tidak banyak yang menyangka jika apa yang terjadi di Indonesia semisal penjualan aset negara (BUMN dan Aneka SDA) dari dulu hingga saat ini merupakan fenomena yang telah didisain dengan sangat rapi, dan hanya para stakeholder kunci (Presiden dan Mentrinya, DPR, MPR dll) mengetahui hal tersebut.

Friday, November 3, 2017

Islam Agama Teroris (Bagian Akhir), Dari Samuel P. Huntington "Islam Adalah Musuh Yang Nyata"

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka.
Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”.
dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu,
Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.
QS Al-Baqarah, 120


Samuel P. Huntington, penasehat politik kawakan Gedung Putih dalam buku " Benturan antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia" menyebut: Bahwa konflik antara Islam dan Barat merupakan konflik sebenarnya! Sedangkan konflik antara kapitalis dan marxis sifatnya cuma sesaat dan dangkal saja. Dari 32-an konflik-konflik di dunia sekitar tahun 2000-an, dua pertiganya ialah antara Islam dengan Non Islam, tanpa ia mengurai detail sebab akibat dan mengapa konflik menghantam. 
Mengapa demikian? Inilah yang memang tengah dijalankan. Opini didirikan, asumsi-asumsi mulai ditebarkan bahwa skenario itu seakan-akan itu sebuah kebenaran. Dunia pun termangu dalam diam! Ujung semuanya, Huntington merekomendasi perlu adanya "serangan dini" terhadap ancaman kaum (militan) Islam. Doktrin negara yang intinya adalah: dengan pertimbangan pembelaan diri dan cukup melalui asumsi lalu kemudian suatu negara boleh menyerang kedaulatan negara lain, istilah sederhananya, pukul dahulu sebelum dipukul. Ide tersebut begitu kental mewarnai politik luar negeri Pemerintah Amerika Serikat terutama era kepemimpinan George W. Bush.

Awal Juni tahun 2002, metode serangan dini resmi menjadi doktrin baru AS. Meskipun hal itu sempat menimbulkan kontroversi baik dari dalam maupun luar negeri, oleh karena ada situasi pembanding. Padahal Amerika Serikat sewaktu Perang Dingin melawan Uni Soviet (kini Rusia) menggunakan metode penangkisan dan penangkalan, mengapa menghadapi teroris, musuh baru yang masih samar, menggunakan doktrin serangan dini?

Amerika Serikat sebagai negara superpower tak perduli akan hal itu. Ia jalan terus dengan para sekutu kendati invasi militernya pada beberapa wilayah banyak disebut ilegal. Afghanistan dan Iraq dahulu merupakan “korban” implementasi pertama doktrin kontroversial, akibat invasi militer AS dan sekutunya tidak lagi bisa ditekel, tak mampu dijegal.

Berbagai opini menyebut, doktrin itu lahir akibat “phobia” Barat terhadap Islam. Phobia ialah ketakutan berlebih tanpa dasar, tanpa jelas alasan. Maka melalui isu beragam, AS pun menebar sentimen keagamaan, dan tragedi 11 September 2001 merupakan salah satu strategi guna meraih dukungan internasional dalam rangka mengobarkan ‘perang melawan teroris’. Itulah propaganda emosional. Tatkala sentimen bergeser (atau sengaja digeser) maknanya bahwa teroris identik dengan Islam (militan). Memang disitulah tersirat sebuah tujuan dan saat ini masih terjadi di beberapa negara yang penduduknya mayoritas Islam!

Dalam ulasannya, Huntington menyebut faktor penyebab meningkatnya konflik antara Islam dan Barat, antara lain: (1) tumbuh cepatnya penduduk muslim telah memunculkan pengangguran jumlah besar. Ini menimbulkan ketidakpuasan kalangan kaum muda muslim; (2) kebangkitan Islam memberi keyakinan kaumnya akan tinggi dan keistimewaan nilai peradaban Islam dibanding dengan Barat; (3) di sisi lain, Barat berusaha mengglobalkan nilai dan institusi guna menjaga superior militer serta ekonomi dan selalu turut campur tangan pada konflik-konflik di negara mayoritas Islam. Hal ini memicu kemarahan kaum muslim; (4) Porak-porandanya Uni Soviet, telah mengubah musuh (komunisme) bersama, sehingga antara Islam dengan Barat merasa sebagai ancaman; (5) meningkatnya interaksi keduanya, mendorong perasaan baru masing-masing bahwa identitasnya berbeda dengan yang lain.

Pada buku " Siapa kita? Tantangan terhadap Identitas Nasional Amerika", Huntington semakin tegas menggambarkan pemikirannya bahwa sesungguhnya musuh Barat pasca perang dingin adalah Islam. Meskipun ada embel-embel kata ‘militan’ sebagai tambahan, namun di berbagai penjelasan, definisi Islam Militan melebar kemana-mana mengaburkan arti sesungguhnya. Akhirnya, dengan berakhirnya Perang Dingin, maka Islam benar-benar menggantikan posisi Soviet sebagai musuh utama AS dan sekutunya.

Ini adalah efek domino dari jatuhnya ekonomi AS yang menyebabkan krisis global dimana-mana, membuka “mata dunia”, bahwa Kapitalisme yang mendewakan demokrasi liberal ternyata bukan akhir evolusi suatu ideologi sebagaimana asumsi Francis Fukuyama. Kemenangan Kapitalisme atas ideologi Komunis saat Perang Dingin, ternyata tidak membawanya pada puncak hegemoni. Nasibnya tidak berbeda dengan ideologi-ideologi lain, tersobek dan berserak seperti selendang kain. Tesis Fukuyama pun gugur tidak berguna lagi. Teorinya bisu dan mati. Dunia bertanya, peradaban dari ideologi mana lagi yang unggul lagi lestari?

Kemunculan Rusia dan China dalam kiprah politik global saat ini menarik perhatian dunia. Masyarakat global seperti melihat bangkitnya komunis via kedua negara adidaya tersebut. Apakah setelah bangkrutnya kapitalisme, banyak negara bakal berkiblat kepada (komunisme) Rusia dan China? Tapi rupa-rupanya banyak kelompok dan negara yang trauma. Kapok. Entah sebab apa.

Persoalannya ialah, peradaban mana yang bisa menjadi teladan bagi dunia baru, setelah melihat berbagai ideologi yang tumbuh dan berkembang di muka bumi bertumbangan satu demi satu?

Kesalahan utama Barat dan banyak komunitas lain adalah memandang Islam sebagai ideologi. Inilah titik awal atau “benih”-nya. Sehingga dampak yang timbul: Islam diletakkan sebagai pesaing, dijadikan kompetitor, bahkan usai Perang Dingin dianggap musuh utama seperti isyarat Benturan Antar Peradaban, Huntington.

" Sesungguhnya Islam itu bukan ideologi, Islam adalah agama langit. Jika ideologi ialah hasil olah pikir manusia yang dijadikan pedoman hidup dan kehidupan (peradaban) suatu komunitas, kaum, negara dan sebagainya, sedang Islam ialah tuntunan hidup manusia menurut aturan dan petunjuk-Nya"

Manakala kini berkembang banyak aliran dalam tubuh Islam dan tiap aliran mengklaim dirinya sebagai kelompok paling benar, itu bukanlah hal prinsip di internal Islam karena cuma masalah latar belakang, wacana dan pendidikan.

Butuh waktu guna mentata ulang kembali. Memang dampak yang ditimbulkan seakan-akan umat Muslim terkotak-kotak. Kondisi seperti inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk memecah-belah Islam dari sisi internal, dilakukan oleh suatu negara, atau kaum maupun golongan tertentu yang menganggap Islam sebagai ancaman. Sebuah retorika menyeruak pada benak ini: Ingatkah terhadap strategi belah bambu dan taktik adu domba yang dijalankan pada banyak kalangan Islam dan dipraktekkan di negara-negara berkembang?

Adanya cap atau merek Islam radikal, liberal, modern, Islam fundamental, tradisional, abangan dan seterusnya, sejatinya adalah stigma buatan yang hendak membentur-benturkan sesama muslim tanpa umat Islam itu sendiri menyadarinya. Itulah hakiki yang terjadi di berbagai negara. Walaupun tata cara dan format adu domba terlihat tidak sama di setiap wilayah, akan tetapi hakikinya serupa. Hanya berbeda nama beda nuansa.

Inilah kesalahan terbesar pakar politik AS Huntington. Mengapa demikian, karena dari sisi terminologi saja, Barat adalah arah mata angin, dimana bila itu dihadapkan selayaknya dengan Timur, Utara atau Selatan, dan bukannya dengan Islam. Itulah yang terjadi. Asumsi awalnya salah, menghadirkan implementasi yang rancu dan salah kaprah. Begitulah jadinya. Dengan demikian, konsep Huntington tentang benturan peradaban seperti menepuk air di dulang, memercik ke muka “sang tuan”, oleh sebab sesungguhnya tidak ada benturan peradaban, kecuali benturan yang diciptakan sepihak, dan diada-adakan!

Dan sejatinya, tidak ada ideologi lestari di muka bumi karena semua bisa berubah menurut waktu. Tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Setiap ideologi mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing seperti yang dikatakan Anthony Giddens dalam bukunya The Third Way: The Renewal of Social Democracy. Sebagai contoh, ideologi X dianggap baik di negara A belum tentu cocok diterapkan pada negara B, demikian sebaliknya. Atau suatu doktrin Y cocok untuk era tempo doeloe tetapi menjadi basi pada masa kini, dan sebagainya. Oleh karena itu upaya pengglobalan nilai dan peradaban oleh suatu negara atau kaum tertentu di dunia adalah hal mustahil. Tak masuk akal. Demikianlah adanya.

Tuesday, October 31, 2017

Islam Agama Teroris (Bagian IV), Memahami Arti Terorisme



Sangat sulit untuk mendefinisakan terorisme dewasa ini, bahkan PBB selaku organisasi internasional yang banyak menaungi berbagai negara-negara di dunia, selama lebih dari 70 tahun belum rampung untuk mendefinisikan kata tersebut. Hal ini menunjukan betapa politisnya pendefinisian terorisme di PBB karena berbagai macam kepentingan.

Noam Chomsky, seorang intelektual anarkis, berkomenter mengenai istilah terorisme yang menurutnya memiliki sifat yang amat subjektif. Bagi Chomsky, terorisme bagi satu pihak sama dengan gerakan pembebasan, atau bahkan pahlawan bagi pihak lain. 

Jeckson dan Sorensen, mendefinisikan terorisme sebagai tindakan yang melanggar hukum atau tindakan kekerasan yang mengancam peradaban, seringkali untuk mencapai tujuan politis, agama, atau tujuan-tujuan lain yang serupa. Sedangkan Kent Lyne Oots, mendefinisikan terorisme sebagai : (1) sebuah aksi militer atau psikologis yang dirancang untuk menciptakan ketakutan, atau membuat kehancuran ekonimin atau material; (2) sebuah metode pemaksaan tingkah laku pihak lain; (3) sebuah tindakan kriminal bertendensi mencari publisitas; (4) tindakan kriminal bertujuan politis; (5) kekerasan bermotif politis; dan (6) sebuah aksi kriminal guna meraih tujuan politis atau ekonomis. Namun demikian, kurang afdol jika kita hanya memuat definisnya saja tanpa menguraikan sejarah terorisme itu sendiri.

Terorisme bukanlah fenomena modern, terorisme telah ada jauh sebelum peristiwa 11 Sepetember di New York. Terorisme yang terrekam oleh sejarah sejak abad pertama masehi. Pada masa itu orang-orang Zelot, kaum Yahudi yang menentang pendudukan Roma atas Palestina membunuh orang-orang Roma di siang hari di depan umum dalam rangka menakut-nakuti pemimpin Romawi di wilayah tersebut. 

Dalam dunia Muslim terorisme pertama kali dipraktekkan oleh kelompok yang disebut Assassins, atau “pemakan ganja,” Muslim militan abad kesebelas yang membunuh orang-orang yang menolak mengadopsi Islam versi mereka. 

Praktek terorisme terbesar dilakukan oleh bangsa Eropa saat menginvasi dunia-dunia baru dan merampok sumber daya di dalamnya. Ratusan juta manusia terbunuh karena keserakahan tersebut, terutama di benua Amerika dimana banyak suku asli di sana yang terbunuh karena invasi Eropa.

Pada abad kesembilan belas, kaum anarkis yang menentang bentuk pemerintahan apapun, banyak menggunakan praktek-praktek terorisme, meskipun banyak juga kaum anarkis yang memperjuangkan cita-citanya dengan cara damai. Beberapa pemimpin dunia menjadi korban pembunuhan yang disebut “propaganda perbuatan” oleh kaum anarkis, antara tahun 1881-1901, termasuk Presiden Amerika Serikat William H. McKinley (1843-1901), Presiden Prancis Marie-Francois Sadi Carnot (1837-1894), dan Raja Italia Umberto I (1844-1900). Pembunuhan-pembunuhan ini dipengaruhi oleh sebuah kelompok Rusia bernama “Kehendak Rakyat,” yang mencoba tetapi gagal untuk membunuh Tsar Alexander Ulyanov (1866-1887), kakak Vlademir Lenin Ilich.

Lanin (1870-1924), pemimpin revolusi Rusia, menggunakan terorisme sendiri setelah Revolusi Bolshevik Rusia tahun 1917 dan bertanggungjawab untuk melancarkan Teror Merah melawan musuh-musuhnya pada musim panas 1918. Dipimpin oleh Felix Dzerzhinsky (1877-1926), pendiri polisi rahasia Bolshevik, Cheka, metode-metode teroris digunakan terhadap semua kelas sosial, terutama terhadap petani yang menolak menyerahkan padi mereka kepada pemerintah Soviet. Tetapi penggunaan teror negara oleh Lenin tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yang dipraktekan oleh penggantinya, Josef Stalin (1878-1953), yang selama upaya Soviet melakukan kolektivisasi peternakan dan industrialisasi masyarakat telah membunuh jutaan warga Soviet. 

Pada 1934, Gulag (sistem kamp penjara untuk tahanan politik Soviet) menahan jutaan orang yang dituduh melakuakan segala macam kejahatan yang dibuat-buat. Gulag, yang kemudian hari menjadi terkenal melalui novel Alexander Solzhenitsyn, The Gulag Archipelago, terdiri atas kamp-kamp kerja yang membentang melintasi Siberia dan jauh di Soviet utara dimana lebih dari satu juta orang meninggal.

Praktek terorisme juga dilakukan oleh rezim Mao Zedong, Frank Dikotter, seorang sejarawan Hong Kong mengatakan bahwa saat Mao menerapkan “Great Leap,” atau lompatan besar di tahun 1958-1962 untuk mengejar ketertinggalan ekonomi Cina dari Dunia Barat, sedikitnya 45 juta penduduk Cina telah terbunuh karena dipaksa bekerja, kelaparan atau dipukul dalam kurun waktu tersebut (empat tahun). Hal ini merupakan pembantaian terbesar ketiga pada abad ke-20 setelah Gulag di Soviet dan Holocaust.

Tak ketinggalan pemimpin bangsa kita sendiripun melakukan praktek keji tersebut, saat Indonesia dibawa pimpinan Soeharto dibantu oleh kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta yang menyediakan daftar orang yang diduga komunis kepada angkatan bersenjata Indonesia. Peristiwa ini terjadi tatkala kelopok komunis Indonesia gagal dalam melancarkan aksi kudeta pada 30 September 1965 yang kemudian diikuti dengan lengsernya Soekarno dari punjak kekuasaan dengan tuduhan mendalangi aksi kudeta tersebut. Kemudian kekuasaan Indonesia dipegang oleh Soeharto atas pilihan MPRS yang berisi orang-orang pro Soeharto setelah pemecatan para Soekarnois di MPRS. Jumlah pasti korban genosida terbesar abad ke 20 di Indonesia tersebut sangat sulit untuk diketahui, hanya sedikit akademisi dan wartawan Barat di Indonesia pada saat itu. Sebelum pembantaian usai, angkatan bersenjata Indonesia memperkirakan sekitar 78.500 orang telah meninggal, sedangkan menurut orang-orang komunis, diperkirakan 2 juta orang meninggal. Di kemudian hari angkatan bersenjata memperkirakan 1 juta orang telah dibantai. Sebagian besar para sejarawan sepakat bahwa sedikitnya setengah juta orang dibantai dengan cara ditembak, dipenggal, dicekik, dan digorok oleh kelompok militer dan warga sipil yang sampai saat ini masih jadi bahan penelitian bagi pihak berwajib.

Dan sekarang, praktek terorisme banyak juga dilakukan oleh negara seperti Israel yang banyak membunuh warga Palestina, Myanmar dengan etnis Rohingyanya, Suriah dibawa pimpinan Bashar Al Assad yang banyak membantai warganya sendiri, dan negara-negara lianya. Hal tersebut menunjukan bahwa kecenderungan terorisme bukan hanya dipraktekan oleh segolongan kaum radikal, namun juga oleh negara atau yang lazim disebut dengan “state-sponsored terrorism”. . . .

Friday, October 27, 2017

Islam Agama Teroris (Bagian III), Nihilisme

War On Teror

Tahun 1848-an, Karl Marx menerbitkan “The Communist Manifesto”. Akan tetapi pada saat yang sama, Karl Ritter dari Universitas Frankfurt membuat anti-tesis bagi Komunisme. Dan ujung olah pikir Ritter dijadikan basis bagi Freidrich Nietzsche menerbitkan “Nietzscheanisme” atau Nihilisme. Akhirnya Nihilisme ditingkatkan lagi menjadi Fasisme, dan digunakan untuk menjalankan Perang Dunia II. 

Disinyalir berbagai kalangan, Nihilisme merupakan embrio “paham teroris” yang kini marak. Sesuai surat Pike kepada Mazzini yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa akan dilepas para nihilis dan atheis, lalu memprovokasi sebuah katalis besar sosial yang akibatnya ditunjukkan kepada semua negara! 

Nihilisme dijejalkan sebagai dogma (keyakinan yang ditelan tanpa kritik) kepada individu, kaum atau golongan melalui penyimpangan “Ajaran Jihad” seperti radikalisme, pencarian dana via merampok, bom-bom bunuh diri dan lainnya atas nama agama. Ya, lagi-lagi agama dikambing-hitamkan serta dilembagakan guna menampung ajaran palsu dan doktrin-doktrin sesat!

Nihilisme ialah pokok ajaran Friedrich Nietzsche. Inti Nihilisme menyebut bahwa keberadaan manusia di dunia tidak memiliki tujuan. Nihilis memiliki beberapa pandangan: (1) tak ada bukti mendukung keberadaan pencipta, (2) moral sejati tidak diketahui, dan etika sekuler adalah tidak mungkin dan lain-lain. Karena itu, kehidupan tidak memiliki arti dan tidak ada tindakan lebih baik dari pada yang lain.

Bahwa Marx, Ritter dan Neitzsche sesungguhnya bekerja atas instruksi Dinasti Rothschild untuk menciptakan aneka dan ragam gagasan. Tujuannya agar dunia rentan perpecahan melalui perbedaan ideologi. Maka ibarat setumpuk jerami kering, tinggal memantik dengan satu percikan, api pun pasti berkobar. 

Itulah keinginannya. Semakin meluas konflik dan pertengkaran, semakin mudah orang dipersenjatai, kemudian didorong untuk saling membunuh mengatas-namakan kebenaran ideologi yang dipujanya. . . .

Thursday, October 26, 2017

Islam Agama Teroris (Bagian II), Sekilas Gerakan Zionisme

 Bahwa konflik antara Islam dan Barat merupakan konflik sebenarnya!
Sedangkan konflik antara kapitalis dan marxis sifatnya cuma sesaat 
dan dangkal saja. Samuel P, Benturan Antar Peradaban

​Banyak literatur menerangkan, Perang Dunia I (PD I) bermula dari persaingan politik dan ekonomi antara kelompok Triple Alliance (Jerman, Austria-Hungary dan Italia) versus Triple Entente (Perancis, Inggris dan Rusia). Setelah terbunuhnya Franz Ferdinand, putra mahkota Kekaisaran Austria yang juga pangeran di Hungary dan Bohemia oleh seorang Nasionalis Serbia, maka terjadilah perang. Peristiwa di atas, dianggap puncak dari Aksi Nasionalis sekaligus pemicu peperangan antara Serbia melawan Austria-Hongaria.

Sedang PD II (1939-1945) diawali pertentangan paham antara liberal dan totaliter, karena usai PD I bermunculan kelompok negara fasisme (baru), sehingga muncul perlombaan senjata, atau ingin membalas kekalahan perang terdahulu dan lainnya.

Serbuan Jerman atas Polandia merebut Danzig di Eropa (1/9/1939) dianggap salah satu letupan, kendati pokok penyulut menurut berbagai catatan adalah serangan Jepang atas Pearl Harbour (7/12/1941), pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Hawai. Itulah kausalitas serta pemantik timbulnya PD I dan II bila ditinjau dari perspektif “apa yang terjadi”.

Ketika mencoba insight berbekal asumsi, bahwa setiap pagelaran niscaya ada wayang, dalang dan pemilik hajatan, ternyata dijumpai hal-hal lain dari pada yang telah ditulis. Mencoba mengurai Perang Dunia dari sisi “mengapa terjadi”. Istilah kerennya, menyibak hal tersirat dari yang tersurat. Inilah uraian singkatnya.

Adalah tokoh Illuminati Internasional, Albert Pike, Jenderal AS di Era 1871-an merampungkan cetak biru tentang “tiga” Perang Dunia yang bakal digelar di masa depan. Entah siapa memerintah, apa motivasi, darimana memulai, bagaimana mengakhiri perang, dan lainnya tidak ada kepustakaan atau referensi yang menjawab dengan pasti. Tapi semoga celoteh singkat ini mampu menguak meski hanya sedikit.

Tujuan PD I (1914 -1918) adalah menghancurkan hegemoni Rusia. Ini sesuai janji Nathan Rothschild tahun 1815-an. Dalam beberapa literatur dikatakan, ketika Kongres Vienna (1814) digelar, ide Rothschild membentuk Pemerintahan Dunia ditolak oleh Tsar Alexander I, bahkan ia tak diizinkan mendirikan bank sentral di Rusia. Sudah barang tentu, sikap Tsar menghalangi cita-cita mendirikan Satu Pemerintahan Global di muka bumi. Dan ini membuatnya sangat geram. Kemudian ia bersumpah, akan menghancurkan Tsar dan keluarga beserta anak cucunya!

Satu abad kemudian, janji itu dipenuhi keturunan Rothschild melalui Revolusi Bolsheviks. Rancangan PD I ini, selain bermaksud melengserkan Tsar, lalu mengganti dengan komunis, juga kelak ideologi tersebut dipergunakan untuk menyerang agama-agama di dunia terutama Kristiani. Adapun moment lain, seperti perbedaan struktur kekaisaran antara Inggris dan Jerman, dijadikan bumbu tambahan menyalakan perang.

Cetak biru PD II didasari kontroversi antara Fasisme dan Zionisme melalui pembantaian orang Yahudi (holocaust) guna meluapkan kebencian orang terhadap Nazi Jerman di bawah kepemimpinan Adolf Hitler. Selain dirancang dalam rangka menghantam Fasisme, kemudian meningkatkan pengaruh politik Zionis, tujuan lain PD II adalah memperkuat pengaruh Komunisme pada tingkat tertentu supaya mampu menandingi hegemoni Kristiani. Tatkala beredar rumor bahwa Hitler cuma orang (wayang) suruhan, karena konon masih ada dalang dan sang penghajat di belakang layar atas peristiwa holocaust!

Berbagai kalangan menyebut, bahwa Perang Dingin (1941-1991) adalah PD III. Tetapi jika merujuk cetak birunya Pike, ternyata bukan. Perang Dingin sekedar jab-jab ringan atau warning menuju Perang Dunia, meski efeknya Uni Sovyet remuk menjadi beberapa negara yang merdeka. Menurutnya, rumusan PD III ialah membentuk opini dan menggalang kebencian masyarakat internasional terhadap Islam, agar berbenturan melawan kekuatan Zionis (Kapitalis). Disebutkan, kelak bila peperangan berkobar, negara-negara lain dipaksa ikut dan diramalkan bakal mengakibatkan hancurnya mental, fisik, spiritual dan ekonomi. Namun pola, jenis dan methode perang tidak dirinci oleh Pike.

Berikut ini adalah surat Pike kepada Guiseppe Mazzini, pemimpin revolusi Italia. Konon karena pengaruhnya, ia bergabung di Illuminati hingga akhir hayatnya. Suratnya kini tersimpan di British Museum, Inggris. Inilah isi materinya:


“Kita perlu melepaskan para nihilis dan atheis. Kita akan memprovokasi sebuah katalis besar sosial yang mana akibatnya akan ditunjukkan dengan jelas kepada semua negara. Mereka akan merasakan efek absolut dari atheisme, asal muasal dari penderitaan dan kerusuhan berdarah terbesar. Setelah itu, orang-orang akan terpaksa untuk melindungi diri mereka terhadap kelompok minoritas dari revolusioner dunia dan akan mulai membinasakan para penghancur peradaban. Para Kristiani yang saat itu akan menghadapi hilangnya semangat, kepemimpinan dan timbul kekhawatiran terhadap keyakinan. Mereka akan kehilangan arah kepada siapa mereka harus percaya, dan akan mendapatkan cahaya sejati lewat manifestasi universal dari doktrin suci Lucifer. Sebuah manifestasi yang mana akan membawa sebuah pergerakan dimana Kristiani dan Atheisme, kedua-duanya akan ditaklukkan dan dihilangkan pada saat yang sama”. . . .

Wednesday, October 25, 2017

Islam Agama Teroris (Bagian I), Atas Nama Keamanan!

Terorisme bagi satu pihak sama dengan gerakan pembebasan atau bahkan pahlawan bagi pihak lain.
Chomsky, Hegemoni or Survival

Awal mula terorisme banyak menyita perhatian publik ketika terjadi peristiwa penabrakan pesawat komersil Amerika Serikat (AS) yang sebelumnya telah dibajak oleh kelompok teroris ke gedung kembar World Trade Center (WTC) pada 11 September 2001. Pemerintah AS bereaksi cepat dengan menerapkan kebijakan “war on terroris”, ditambah dengan bantuan media untuk membesarkan isu ini, berhasilah masyarakat dunia terkontruksi persepsinya untuk menganggap terorisme adalah musuh bersama terbesar mereka. Sayangnya, kontruksi musuh bersama tersebut diikuti pula dengan pengkontruksian masyarakat tentang kaitanya salah satu agama yang dekat dengan terorisme sehingga membuat jelek wajah agama tersebut. 

Agama yang dimaksud itu ialah Islam, pengkondisian Islam sebagi agama yang erat kaitanya dengan terorisme dikarenakan banyak peraktek-praktek pengeboman dilakukan oleh muslim ditambah dengan peran dari media yang seakan-akan mempercepat pengkondisian tersebut.

Lalu pertanyaanya apakah benar “terorisme” sebagai musuh bersama umat manusia? Mungkin banyak yang berpendapat bahwa pertanyaan tersebut tak membutukan jawaban dikerenakan sudah secara gambalang terlihat bahwa terorisme merupakan musuh bersama bagi umat manusia. Namun harus kita ketahui bersama penjelaskan dan alasan secara jelas mengapa ada pengkondisian bahwa terorisme merupakan musuh bersama.

Sejak berakhirnya Perang Dingin yang ditandai dengan bubarnya Uni Soviet sebagai rival negara demokrasi-kapitalis Amerika Serikat di awal dekade 90-an terjadi perubahan konsep keamanan dalam Hubungan Internasional. 

Dahulu keamanan dipahaimi hanya berbicara kalkulasi materi yang sangat bersifat tradisional yang militeristik. Konsep keamanan tersebut menekankan titik fokus pada negara, artinya negaralah sebagai objek yang perluh dilindungi dari ancaman. Namun semenjak berakhirnya Perang Dingin, muncul konsep keamanan baru, seperti “human security”, atau kemanan terhadap manusia. Konsep keamanan ini menitikberatkan pada perlindungan terhadap eksistensi manusia dengan dasar bahwa manusialah yang sebenarnya menjalankan negara dan juga manusialah yang menjadi alasan mengapa negara ada, yaitu untuk melindungi manusia dari anarki alamiah. Dari landasan tersebut maka masuklah terorisme sebagi musuh bersama umat manusia karena tindakan terorisme sendiri mengancam eksistensi manusia dengan melihat sasaran mereka ialah manusia.

Upaya pengkondisian besar-besaran menjadikan terorisme sebagai musuh bersama umat manusia dilakuakan oleh AS pasca tragedi 9/11. Sebelumnya pemerintah AS mengkondisikan persepsi masyarakatnya untuk percaya bahwa musuh bersama mereka ialah komunisme, persis apa yang dilakukan oleh rezim orde baru terhadap masyarakat Indonesia.

Tapi pasca tragedi 9/11 pemerintah AS menudingkan kelompok Al Qaeda yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Hingga akhirnya AS mencanangkan kebijakan “war on terrorism” di mana pengaplikasian dari kebijakan tersebut ialah melakukan prventive strike dengan pertimbangan yang unilateralisme untuk menginvasi Afganistan yang dituduh sebagai sarang dari kelmpok Al Qaeda. Karakter AS tersebut dikarenakan rezim yang berkuasa pada saat itu dipengaruhi oleh kelompok nekonservatif yang menghendaki kebijakan luar negeri AS bersifat hawkish.

Pengkondisian terorisme sebagai musuh bersama tak lebih dari upaya kalangan neokonservatif di AS untuk mencapai kepentingan-kepentingannya. Mereka mencari-cari alasan terdapat keterkaitan antara Osama Bin Laden dengan rezim Saddam Hussein di Iraq. Kaitannya, Osama dengan organisasinya Al Qaeda memperoleh pasokan persenjataan dari rezim Saddam untuk menyerang kepentingan AS di seluruh dunia, termasuk WTC dan Pentagon. 

Dengan kata lain, AS berusaha menyetir opini publik internasional melalui media yang mereka kuasai kalau dalang sesungguhnya dibalik peristiwa 9/11 ialah Saddam Hussein.

David Duke berpendapat sebaliknya mengenai tudingan Bush terhadap Taliban dan Iraq terkait dengan terorisme. Ia dengan berani memilih jalur yang berseberangan dengan pendapat mayoritas publik AS dengan menyatakan bahwa Israellah yang semestinya ditempatkan pada posisi puncak sebagai target AS, sebab negara ini telah melakukan tindakan terorisme terhadap bangsa Palestina dan penghinaan secara sadar terhadap rakyat AS. Bagi Duke, " Israel adalah surga teroris dan AS telah diperalat untuk memuaskan hawa nafsunya dengan mensupalai miliaran dolar yang diperoleh dari pajak rakyat AS untuk memenuhi kebutuhan persenjataan canggih yang digunakan untuk melakuakan pembunuhan terhadap bangsa Palestina".

Dari sedikit uraian tadi semoga cakrawala pengetahuan kita terbuka bahwa terorisme menjadi musuh bersama umat manusia merupakan hasil dari pengkondisian pemerintah AS dengan bantuan mendia mainstream. Munculnya asosiasi terorisme dengan Islam juga tak jauh berbeda dengan upaya pengkontruksian tersebut. Bukan bermaksud untuk menghilangakan daftar tindakan terorisme sebagai musuh bersama umat manusia, namun di sini lebih berusaha untuk terorisme bukan hanya tindakan yang dilakukan oleh kalangan penganut agama tertentu, namun lebih dari itu, tindakan terorisme adalah segala bentuk kekerasan dan pembunuhan yang mengancam eksistensi manusia di muka bumi ini tanpa terpaku pada siapa yang melakukan tindakan tersebut.

Wednesday, October 18, 2017

Kristenisasi (Bagian II), Eropa dan Tata Dunia Baru

Dunia Baru harus dieropanisasikan dan penduduknya harus dijadikan penganut agama Kristen

Sebelum Liga Bangsa-Bangsa terbentuk (saat ini PBB), hukum internasional pada hakikatnya merupakan hukum Eropa, yang muncul sebagai kombinasi fakta regional dengan kekuatan material, dan kemudian diubah menjadi suatu hukum yang menguasai semua hubungan internasional. Dengan demikian negara-negara Eropa memproyeksikan kekuatan maupun hukumnya di seluruh dunia sebagai suatu keseluruhan. Justru di sinilah letak ciri khas apa yang dinamakan"Hukum Internasional", baik dari segi inti bahkan juga realitas eksistensinya. Karena secara histori tersebut tidak dapat disebut Hukum Internasional yang diciptakan atas kesepakatan umum, tetapi merupakan Hukum Internasional yang diberikan kepada seluruh dunia oleh satu atau dua kelompok yang dominan. Semua ini merupakan sebab mengapa hukum itu dapat berfungsi sebagai landasan hukum berbagai aspek politik dan ekonomi imprealisme.

Selain itu. Hukum Internasional merupakan juga suatu hukum yang telah melindungi hak-hak istimewa negara-negara Eropa yang beradab, dimana hukum itu memungkinkan penduduk negara-negara bersangkutan menikmati beberapa keuntungan di Dunia Ketiga dengan cara menaklukkan dan menyerang karena dianggap sebagai negara yang tidak beradab.

Atas dasar uraian tersebut diatas, hukum Internasional sendiri terdiri dari empat dasar hukum dengan suatu landasan geografis tertentu (hukum Eropa), inspirasi etik-religius tertentu (hukum Kristen), motivasi ekonomi (hukum Merkantilis), dan mempunyai tujuan politik (hukum Imprealis). 

Dalam perjalanan sejarah banyak "Kerajaan Eropa beragama Kristen" berubah menjadi kerajaan merdeka dan tidak dapat dikendalikan; masing-masing kerajaan berusaha memenuhi kepentingan sendiri dengan menggunakan kekuasaan yang tidak terkekang dan tidak terbatas. Kerajaan-Kerajaan ini merupakan ciri khas Kerajaan Romawi Tempo Doeloe. 

Namun dengan ditandatanginya perjajnjian pada tahun 1648 semua upaya itu terhenti, dan sejak saat itu Eropa ditandai dengan kecenderungan hubungan internasional yang baru. Di bawah sistem yang diciptakan oleh perjanjian perdamaian Westphalia, "sistem negara Eropa" telah berhasil mengganti koeksistensi negara-negara Kristen yang mencemaskan. Masalah itu terletak pada perimbangan antara kekuasaan setiap negara secara individual dengan kemajemukan Eropa yang menyangkut desakan kebutuhan agar setiap negara Eropa bersedia menghargai status negara lain. Prinsip keseimbangan antara berbagai negara Eropa jelas tercermin di dalam Perjanjian Utrecht yang di tandatangani pada tahun 1713. Selain itu, perjanjian tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan antara negara Eropa bahwa Dunia Baru harus dieropanisasikan dan penduduknya harus dijadikan penganut agama Kristen (kristenisasi) sebagai lanjutan perang Salib (perang antara penganut ajaran Islma dan Kristen) yang terjadi pada tahun 1095 M.

Bagi Eropa, masyarakat internasional harus dipersempit sehingga menjadi galaksi berbagai negara yang secara bersama membentuk suatu benua yang dimana mempunyai kesamaan kebudayaan dan agama. Hubungan internasional hanya dinyatakan berlaku untuk negara-negara Eropa, atau Amerika Serikat yang terbentuk kemudian dan secara singkat dapat dikatakan bahwa hanya Eropa sendiri yang berhak mengeluarkan surat keterangan kelahiran suatu negara baru.

Ya, Sudah menjadi kenyataan dalam lembar sejarah kehidupan manusia bahwa setiap abad, Eropa berhasil memperoleh sejumlah koloni pada abad 16, bahkan saat ini mereka bisa dikatakan sebagai pemegang kendali kehidupan ummat manusia dengan dalih berbagai macam bentuk atau modus namun kemudian menjadikan mereka sebagai penganut agama Kristen.

Friday, October 6, 2017

Kristenisasi (Bagian I), Penduduk Dunia Ketiga Tidak Layak Hidup!

" Apabila seorang pria dilahirkan di dunia yang serba ada tetapi ternyata tidak memperoleh dari orang tuanya kebutuhan yang berhak dimintanya, dan bila masyarakat merasa tidak memerlukan pekerjaannya, orang itu itu tidak berhak menuntut sepotong makanan pun."  Malthus.


Dewasa ini apa yang digambarkan oleh Malthus diatas ternyata muncul kembali; menurut Profesor Yah Tondon, The Evolution Of The World Economic Order and Possible Responses Of International Organizations, untuk mengenang jasa Malthus sekarang banyak didirikan monumen dalam bentuk berbagai program pembatasan kelahiran di negara-negara berkembang. Demikian pula Susan George, How the Other Half Dies, mengatakan: " Salah satu sasaran utama yang dibidik oleh Dunia Barat dalam melancarkan serangannya terhadap Dunia Ketiga ialah penduduknya sendiri. Jumlah penduduk negara berkembang sudah terlampau banyak, ledakan penduduk di dunia miskin oleh Dunia Barat dijadikan dalih faforit, yang kadang-kadang malah hanya satu-satunya, untuk memberikan gambarang serta alasan tentang kelaparan dunia kepada para pembaca dan pengamat.

Kelompok negara yang sudah maju memang senantiasa berpegang kepada silogisme logika tanpa cacat, yaitu bahwa jumlah sumber daya dunia termaksud persediaan bahan pangan selalu terbatas; penduduk dunia sudah terlalu padat karena tingkat kelahiran di negara-negara miskin sangat tinggi; akibatnya negara tersebut mengalami perkembangan demografi yang luar biasa sehingga terpaksa mengkomsumsikan sumber daya dunia yang lebih banyak, dan akan membahayakan kehidupan seluruh dunia karena tidak mampu memberikan makan kepada sekian banyak penduduk. Kemiskinan dan kelaparan akan dapat diperangi apabila Dunia Ketiga mempraktekkan sistem kontrasepsi.


Jelas bahwa penduduk dunia mengalami pertumbuhan yang sangat mengagumkan. Rupanya setiap bulan "pertambahan jumlah penduduk bumi sama dengan jumlaj seluruh penduduk di Prancis". Pada tahun 1960 meningkat menjadi 3 milyar, dan tahun 1967 semakin bertambah sampai 4 milyar, dan saat ini mencapai 7 milyar. Malah dalam kurung waktu tidak sampai satu abad akan tercapai jumlah yang sangat fantastis, yaitu 30 milyar penduduk.

Problem demografis bukan merupakan masalah yang baru, namun sampai sejauh ini masih belum diambil tindakan yang serius untuk memberikan jawaban yang berarti. Mungkin satu-satunya jawaban yang dapat disodorkan hanyalah pertumbuhan negara yang bersangkutan sendiri ditinjau dari segi ekonomis dan kultural.

Apabila direnungkan lebih dalam, penyebab utama ledakan penduduk bersumber dari tahap perkembangan maupun pembinasaan dan pemerasan/eksploitasi yang dilakukan oleh kelompok negara kaya terhadap Dunia Ketiga.

Bertambahnya jumlah penduduk dunia yang mencolok di negara-negara miskin lebih disebabkan karena keadaanya masih dalam tahap perkembangan, dan bukan masih mengalami perkembangan karena jumlah penduduknya terlampau banyak.

Di depan Konperensi Kependudukan Dunia yang diselenggarakan oleh PBB di Bukares tanggal 18 sampai 31 Agustus 1974 tempo doeloe, delegasi India secara gamblang menjelaskan bahwa tidak satu cara pun dapat diterapkan untuk menurungkan tingkat kelahiran kecuali bila sebelumnya telah didukung oleh perkembangan ekonomi dan sosio kultural yang minimun. Untuk menerapkan kebijaksanaan itu diperlukan sejumlah staf yang minimun sudah dilatih untuk menangani masalah kesehatan, sosial kultural dan lain-lainnya. Dengan memanfaatkan tenaga itu sampai tingkat tertentu niscaya akan tercapai perkembangan baru.

Dalam Konperensi Kependudukan tersebut. Pertentangan pendapat yang menggema antara delegasi Cina dan delegasi vatikan. Menurut delegasi Cina: "manusia merupakan benda yang paling berharga," sedangkan pihak delegasi Vatikan mengatakan bahwa " problem kependudukan Dunia lebih diakibatkan oleh sifat egoisme kaum yang kaya, dan bukan karena kesuburan golongan miskin.

Problem-problem distribusi penduduk menurut laporan Dag Hammerskjold, What Now? mengatakan " Dengan dilandasi oleh asumsi bahwa jumlah sumber daya yang sangat terbatas, dalam setiap pembahasam yang cermat pertama-tama harus dapat diketahui siapa yang selama ini menghabiskan sumber daya dan untuk apa sumber daya itu dimanfaatkan. Sampai sekarang ekonomi pasaran industri yang hanya mewakili 18% dari seluruh penduduk dunia ternyata mengkonsumsikam 68% 9 bahan mineral dasar (kecuali minyak). Padahal Dunia Ketiga yang menghuni atau mewakili 50% jumlah seluruh penduduk dunia hanya menghabiskan 6%. Dalam hal ini jelas tekanan terhadap sumber daya memang rill dan kompleks, namun tidak banyak sangkut pautnya dengan tekanan demografi itu sendiri. Paling tepat bila dikatakan bahwa gaya konsumsi yang diperagakan oleh negara-negara industri tidak mungkin dicegah apabila 4 atau 10 milyar manusia berusaha mencarinya, walaupun hal ini merupakan salah satu argumen yang dapat dijadikan landasan untuk mengubah gaya konsumsi masyarakat industri, dan bukan sebagai dasar untuk memberi saran kepada golongan miskin agar menurunkan angka kelahirannya."

Sebagaimana yang pernah dikatakan Susan George, How the Other Half Dies, yang menguraikam secara jelas bahwa kelaparan tidak disebabkan oleh pertambahan penduduk dan bahwa kedua masalah itu mencerminkan kegagalan sistem politik dan sosial dunia pada umumnya.

"Dunia Barat sebenarnya tidak perlu menyebutkan bagaimana keadaan kehidupan separuh jumlah penduduk dunia dan berapa bayi yang dilahirkan. Tetapi sebaliknya kepada kita malah harus diberi saran untuk meneliti kembali berbagai motif yang selama ini sudah mempengaruhi perasaan kita sendiri. Sudah tentu Dunia Barat takut dan cemas karena pada suatu saat semakin banyak jumlah penduduk di Dunia Ketiga akan menuntut hak mereka dan sekaligus mendesak agar golongan kaya menurunkan standar kehidupannya. Selain itu, ketakutan yang hadir bagi Dunia Barat ialah karena tekanan kependudukan pada akhirnya akan menunjukkan bahwa satu-satunya pemecahan yang dapat dicapai ialah REVOLUSI" Susan George.

Saturday, September 23, 2017

Dunia Ketiga; Hewan Lebih Mulia Dari Manusia


Sejarah yang telah terukir dalam proses menjalani hidup dalam kehidupan ummat manusia dapat disimpulkan bahwa semua peristiwa yang telah terjadi dan bahkan masih berlangsung saat ini dibayar dengan darah, kesedihan dan air mata bahkan nyawa hanya dan demi untuk mempertahankan kehidupan suatu kelompok.

Dewasa ini seluruh penghuni dunia mengalami keresahan. Pengaruhnya tidak hanya terasa di bidang hubungan antara berbagai negara dan internasional, tetapi juga menyangkut beberapa problem internasional yang timbul di berbagai negara maupun masalah antar bangsa tanpa memandang negara dan melampaui batas-batas negara.

Oleh beberapa kalangan dikatakan bahwa kekacauan merupakan ciri khas yang menandai masa kini, akan tetapi akarnya berasal dari masa lampau. Kebutuhan akan energi (minyak) dan pangan yang berujung invasi negara-negara maju ke negara-negara berkembang maupun miskin melalui isu sara telah membuktikan hal ini bagaikan getaran listrik yang sangat mengejutkan.

Dalam kurung waktu beberapa abad sampai saat ini, kelompok negara kaya telah mengalami kemajuan pesat atas pengorban yang diberikan oleh negara-negara sedang berkembang yang justru semakin miskin. Kejadian ini bisa disebutkan sebagai hukum besi yang faktanya sudah diketahui dan dipahami sejak dulu.

Jim Yong Kim, Presiden World Bank ke-12, pada tahun 2015 telah menyusun suatu studi mengenai berbagai masalah yang timbul di dunia saat ini. Dalam uraiannya banyak membahas tetntang pertumbuhan kemiskinan absolut di Dunia Ketiga maupun kemerosotan bidang pertanian dan kemiskinan di daerah perkotaan. Hasil studi atau penelitian tersebut melukiskan keadaan dewasa ini yang mirip alam semesta seperti yang digambarkan oleh ahli filsafat Dante di mana umat manusia memasuki dunia pensucian.

Di Dunia Ketiga 350 juta penduduk hidup berdesak-desakan di kota-kota yang sungguh keadaanya sangat memilukan; 230 juta penduduk menganggur, 550 juta masih buta huruf, 700 juta menderita kekurangan gizi, dan 1 milyar 200 juta penduduk tidak pernah menikmati air minum yang bersih dan sehat. Selain itu telah diperkirakan pula 900 juta penduduk dunia  hanya mempunyai penghasilan sebesar 35 sen sehari. Susan George, Pangan: Dari Penindasan Sampai ke Ketahanan Pangan mengatakan " apabila waktu yang dihabiskan untuk membaca buku ini enam jam, dalam jangka waktu itu pula di berbagai tempat di dunia 2.500 penduduk akan mati kelaparan atau menderita penyakit yang banyak kaitannya dengan kelaparan.

Apabila ditelaah lebih teliti pada hakikatnya dewasa ini jumlah penduduk yang kelaparan, kekurangan gizi atau masih buta huruf malah jauh lebih banyak dibandingkan dengan keadaan pada tahun 90-an; pada waktu itu di San Fransisco" bangsa-bangsa yang tergabung di dalam lembaga dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menegaskan kembali keyakinannya untuk menjunjung tiknggi hak-hak asasi manusia, serta bersepakat bulat untuk meningkatkan kemajuan sosial dan tingkata kehidupan dalam suasana kebebasan yang lebih luas".

Di beberapa negara kira-kira 60% anak-anak meninggal sebelum berusia 5 tahun. Sejak tahun 90-an sampai sekarang ini jumlah penduduk yang masih buta huruf telah meningkat dari 550 juta mencapai 1,1 Milyar. 

Dalam keadaan seperti saat ini, tidaklah mengherankan apabila krisis pertanian "pangan" dunia yang telah terjadi sejak tahun 1972 merupakan akar dari kemiskinan atau bahkan juga kelaparan yang tragis sehingga menimbulkan rasa hina serta kecemasan. Krisis tersebut tidak hanya diakibatkan oleh proses pertumbuhan produksi yang tidak seimbang, tetapi juga karena permainan spekulasi harga yang kotor.

Amerika Utara dan Australia dapat digolongkan sebagai lumbung makanan raksasa di dunia, namun lama kelamaan persediaannya tidak urung akan menyusut. Di Amerikat Serikat sendiri persediaan gandum ditambah dengan hasil potensial tanah yang dibiarkan kosong dapat memenuhi kebutuhan konsumsi makanan seluruh dunia selama 100 hari.

Selain itu, Produksi makanan anjing di Amerika Serikat sejak tahun 80-an kira-kira dapat dikatakan hampir sama dengan pendapatan rata-rata pria di India. Di Prancis konsumsi kalori 8 juta anjing dan 7 juta kucing ternyata sama dengan konsumsi kalori seluruh penduduk Portugal. Jumlah sisa makanan yang dibuang ke dalam tempat sampah oleh bangsa Amerika setiap tahun cukup untuk memberi makanan penduduk semua negara di benua Afrika yang luas selama satu bulan.

Pada jaman modern ini harkat hewan seolah-olah tinggi karena mempunyai kelebihan tertentu dibandingkan dengan kebanyakan orang; untuk hewan disediakan pemangkas rambut, penjahit dan restoran khusus. Contoh tersebut hanya sekedar menunjukkan beberapa aspek ketidakadilan yang menimpa martabat manusia, malah merupakan skandal terbesar di dalam organisasi dunia masa kini.


Monday, September 11, 2017

Virus Sosial: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya (1)

Pada dasarnya manusia ingin kesempurnaan.
Namun, yang ia peroleh dalam hidup untuk menjalani kehidupan adalah kenikmatan.
 kenikmatan yang akan menggiring manusia kepada kepunahan. Ibn Fadly, Catatan Menuju Dunia Baru

Lenyapnya batas-batas teritorial, batas-batas negara dan bangsa, batas-batas kesukuan dan kepercayaan, batas-batas politik dan kebudayaan, merupakan dampak dari ekonomi dan informasi saat ini. Namun, di dalam era saat ini. Ternyata tidak banyak orang berbicara mengenai lenyapnya batas sosiologi antara dunia anak-anak dan dunia orang dewasa, misalnya: batas ontologis antara citra dan realitas; batas filoofis antara kebenaran dan kepalsuan, batas psikologis antara normalitas dan abnormalitas, batas politis antara penguasa dan teoritis, batas ekonomi antara bencana ekonomi dan sukses ekonomi.

Era globalisasi yang berkaitan dengan ekonomi, informasi, kebudayaan, telah menawarkan berbagai keterbukaan dan kebebasan; Ekonomi pasar bebas, komunikasi bebas, seks bebas. Keterbukaan telah mendorong perkembangbiakan, pelipatgandaan dan penganekaragaman produk, informasi, tanda dan kesenangan yang tanpa batas dalam skala global, yang menawarkan pula hutan rimba pilihan.

Setelah semua batas-batas tersebut di atas lenyap, yang kemudian terbentuk adalah jaringa-jaringan transparan global dalam berbagai diskursus: jaringan transparansi informasi, transparansi komunikasi, transparansi ekonomi, transparansi seksual. Di dalam jaringan transparansi informasi; orang membaca, mendengar, melihat, menonton, merekam, mengkopi, apa saja yang sebelumnya dianggap tabu. Di dalam jaringan transparansi komunikasi; orang memperlihatkan, mempertontonkan, membicarakan, memamerkan apa saja yang dianggap imoral. Di dalam jaringan transparansi seksual; orang menyaksikan, menonton, melakukan hubungan seksual tanpa batas gender, adat, umur. Di dalam jaringan transparansi ekonomi; orang memproduksi, memperjualbelikan dan mengkosumsi apa saja, termaksuk libido.

Masyarakat yang di dalamnya terdapat wajah yang dibangun dari serangkaian citra-citraan, dan tubuh dijalari oleh berbagai jenis virus adalah wujud dari masyarakat kapitalisme global. Tubuh dijadikan  citra-citraan dalam rangka menjual komoditi (gadis model, covergirl, gadis penyorak dll), atau tubuh itu sendiri dijadikan komoditi, dan memuatinya dengan konsep dan makna-makna semiotis (prostitusi, striptease). Tidak saja libido digunakandalam merangsang penjualan komoditi,akan tetapi libido  itu sendiri kini telah menjadi komoditi.

J.F Lyotard, di dalam bukunya Libinal Economy, mengemukakan bahwa di dalam analisis ekonomi politik kapitalisme mutakhir, apa yang tampak dari diskursus ekonomi adalah pengaturan lalu lintas ekonomi melalui model mucikari. Mucikari itu sendiri merupakan seseorang yang menghasilkan uang dari kegairahan. Ia menggunakan setiap trik untuk mengubah segala bentuk rangsangan libido menjadi kapital, dan memutarnya demi mendapatkan nilai surplus atau keuntungan.

Dalam dunia industri film, seorang produser menerapkan hukum-hukum komoditi pada sebentuk tubuh, memperindah penampilan, memperbesar daya rangsangan, meningkatkan pelayanan agar ia siap menerima setiap permintaan. Sebab, sebagai komoditi, teknik, gaya, atau kombinasi-kombinasi baru kreatif harus ditemukan untuk menarik konsumen. Apa yang diinginkan melalui kapitalisasi libido adalah membuta sebatang tubuh mampu menarik keuntungan dari status komersialnya. Untuk itu, Ia mengharuskan bahwa setiap fragmen tubuh dan kapasitas libidonya harus bisa dipasarkan.

Michel Foucault adalah seorang pendukung filsafat pembebasan libido ini. Di dalam bukunya The History Of Sexuality, Foucault berargumen bahwa di dalam masyarakat yang menjunjung tinggi peradaban seperti masyarakat kapitalisme global sekarang ini, pembebasan rangsangan-rangsangan yang ada di dalam diri harus dibebaskan, hasrat harus disalurkan, perbedaan atau diferensi harus dapat dihasilkan.

Dalam ekonomi pasar bebas, ketika sebatang tubuh memasuki satu jaringan ekonomi pasar bebas libido, maka seperti buah komoditi dalam jaringan pasar bebas, ia akan menjadi bersifat anonim atau menjadi milik semua orang, menjadi transparan, menjadi kehilangan kategoris. Tubuh (prostitusi, homoseksual, heteroseksual, pedofilia) akan membentuk sebuah jaringan seksual dengan siapa saja dalam satu orbit seksualitas.

Bersamaan dengan Mengalirnya seks dari satu negara ke negara lain, dari satu lokalisasi ke lokalisasi lain, mengalir pula virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), yang mengakibatkan bencana AIDS (Acquired Immue Deficiency Syndrome). AIDS menurut Baudrillard Merupakan produk kebebasan libido, transparansi, promiskuitas, dan hipersensibilitas yang tidak terkendali yang melewati kapasitas alamiahnya. 

Pada akhirnya, virus HIV beroperasi layakya terorisme, yang menyusup kedalam sebuah sistem, menggerogoti dan kemudian menghancurkan sistem tersebut dari dalam. 


Friday, September 8, 2017

Jhon Perkins, Indonesia adalah sasaran utama bagi Amerika

Mantan Bandit Ekonomi Dunia

Ini adalah kisah nyata: aku menjalani setiap menit di dalamnya. Pandangan, orang, percakapan dan perasaan yang kuuraikan, semua adalah bagian dari kehidupanku. Ini merupakan kisah pribadiku, namun kisah ini terjadi di dalam konteks peristiwa dunia yang lebih besar, yang telah membentuk sejarah kita, yang telah membawa kita ke tempat kita berada sekarang dan membentuk dasar bagi masa depan anak-anak kita.

Kisah tentang aku yang dulunya sebagai (economi hit man). Sebuah kisah tentang bagaimana kita semua tiba di tempat kita berada sekarang dan mengapa kita sekarang ini menghadapi krisis yang tampaknya tidak dapat ditanggulangi. Sebab, hanya dengan memahami kesalahan kita di masa lampau, kita akan mampu mengambil keuntungan untuk menyongsong peluang di masa depan; karena peristiwa 11 september telah terjadi, demikian pula perang kedua di Irak; karena selain 3.000 manusia tewas pada tanggal 11 september 2001 di tangan para teroris, 24.000 manusia lainnya meninggal karena kelaparan dan sebab lain yang berhubungan dengan kelaparan. Sesungguhnya, 24.000 manusia meninggal setiap hari karena mereka tidak memperoleh makanan untuk mempertahankan hidup. Yang lebih penting, kisah ini mengapa harus diceritakan. Sebab saat ini, untuk pertama kali dalam sejarah, suatu bangsa mempunyai kemampuan, uang, dan kekuasaan yang menyebabkan semua kekacauan yang terjadi di muka bumi ini. Ini adalah bangsa di mana aku dilahirkan dan kepadanya aku telah mengabdi sebagai EHM; Amerika Serikat.

Tugasku sebagai EHM tiada lain untuk mendorong para pemimpin dunia agar menjadi bagian dari jaringan luas yang mengutamakan kepentingan komersial Amerika Serikat. Pada akhirnya, para pemimpin itu akan terjerat di dalam belitan utang yang akan memastikan loyalitas mereka. Alhasil, Mereka dapat dimanfaatkan kapanpun, untuk memenuhi kebutuhan politik, ekonomi, atau militer Amerika Serikat.

Para eksekutif perusahaan Amerika yang paling terhormat memperkerjakan orang dengan tingkat penggajian yang mendekati gaji para budak di kawasan industri yang telah tertanam di negara-negara yang berhasil dikuasai. Membanting tulang dengan kondisi yang tidak manusiawi di pabrik-pabrik terutama di kawasan Asia.

Perusahaan minyak dengan ceroboh memompakan racun ke dalam sungai-sungai hutan hujan, dengan sadar membunuh manusia, satwa dan tanaman serta melakukan genosida pada budaya kuno. Industri farmasi yang mereka punya menolak memberikan obat-obatan yang dapat menyelamatkan nyawa jutaan orang Afrika  yang terinfeksi HIV.

Amerika Serikat membelanjakan lebih dari 87 miliar dolar untuk berperang di Irak, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa dengan setengah dari jumlah itu kita dapat menyediakan air bersih, makanan yang layak, layanan sanitasi, dan pendidikan dasar bagi setiap manusia di planet ini.

Setiap kesempatan bagi Amerika Serikat dan Sekutunya akan selalu meyakinkan kepada kita bahwa membeli berbagi barang adalah kewajiban kita sebagai warganegara. Dan tugasku yang telah mendapatkan gaji yang sangat tinggi adalah melakukan tawar-menawar sistem bagi negara yang kaya akan sumber daya alamnya terutama di Indonesia untuk memperluas industri yang dimiliki Amerka Serikat. Jika kami tersendat, maka serilaga (Intelejen - CIA), akan menggantian kami. Dan jika serigala tersebutpun gagal, maka tugas akan jatuh ke tangan Militer (Invasi).

Badan Khusus Amerika Serikat
Tentang Indonesia. Ketika Columbus berlayar pada tahun 1492, ia berusaha untuk mencapai Indonesia, yang pada saat itu dikenal sebagai Kepulauan Rempah-rempah. Selama era Kolonial, Indonesia dipandang sebagai HARTA BENDA yang jauh lebih berharga dari pada Amerika. Pulau Jawa dengan kain tenunnya yang sangat kaya, rempah-remahnya yang sangat terkenal, ribuan barisan pulau yang kaya akan SDA menghiasi, kerajaannya yang mewah, merupakan mahkota dan kancah perebutan kekuasaan di antara petualang-petualang Spanyol, Belanda, Portugis, dan Inggris.

Ketika Jepang menduduki Indonesia selama Perang Dunia II, pasukan Belanda melakukan sedikit perlawanan saja. Sebagai akibatnya, bangsa Indonesia, terutama suku Jawa sangat menderita. Menyusul kekalahan Jepang, seorang pemimpin yang karismatik bernma Soekarno muncul untuk memproklamasikan kemerdekaan. Pertemuran yang berlangsung selama empat tahun akhirnya berakhir pada tanggal 27 Desember 1949, ketika Belanda menurunkan benderanya dan menyerahkan kedaulatan kepada rakyat yang hanya mengenal perjuangan dan dominasi selama lebih dari tiga abad. Soekarno menjadi presiden pertama republik baru itu.

Akan tetapi, memerintah Indonesia ternyata lebih sulit daripada mengalahkan Belanda. Jauh dari kondisi homogen, kepulauan yang terdiri dari sekitar 17.500 pulau itu laksana panci mendidih yang berisi beragam sikap dan perilaku, budaya, lusinan bahasa, serta suku-suku yang menyimpan dendam selama berabad-abad. Konflik seringkali terjadi dan brutal, dan soekarno menindaknya dengan keras.

Ia membubarkan parlemen pada tahun 1960 dan dinamai presiden seumur hidup tahun 1963. Ia membentuk persekutuan yang erat dengan pemerintah-pemerintah komunis di seluruh dunia, sebagai pertukaran dengan peralatan dan pelatihan militer. Ia mengirimkan pasukan Indonesia yang dipersenjatai Rusia ke negara tetangga Malaysia dalam upaya menyebarkan paham komunisme ke seluruh Asia Tenggara dan mendapatkan persetujuan para pemimpin sosial dunia yang merupakan musuh abadi Amerika Serikat.

Oposisi terbangun, dan suatu perebutan kekuasaan dilancarkan pada tahun 1965. Soekarno lolos dari pembunuhan hanya karena kecekatan istri mudanya. Banyak perwira militer puncak dan rekannya yang terdekat bernasib kurang beruntung. Peristiwa ini mengingatkan kepada peristiwa yang terjadi di Iran pada tahun 1953. Pada akhirnya, Partai Komunis dianggap bertanggung jawab terutama faksi yang bersekutu dengan Cina. Pada pembantaian yang diprakarsai oleh Militer, diperkiran tiga ratus ribu bahkan sumber yang mengatakan jutaan orang dibunuh. Komandan militer, Jendral Soeharto pun berkat bantuan Amerika akhirnya mengambil alih kekuasaan sebagai presiden di tahun 1968 dari Soekarno yang anti terhadap negara Imprealis terutama Amerika Serikat.

Hingga tahun 1971, tekad Amerika Serikat untuk menjauhkan Indonesia dari Komunisme menguat karena hasil perang Vietnam terlihat sangat tidak pasti. Presiden Nixon telah memulai serangkaian penarikan pasukan pada musim panas 1969, dan strategi Amerika Serikat cenderung berperspektif lebih global. Strategi difokuskan untuk mencegah efek domino bahwa satu negara jatuh ke tangan komunis setelah lainnya, dan strategi itu difokuskan elektrifikasi MAIN (utama) adalah bagian dari rencana seluruhan untuk memastikan kekuasaan Amerika Serikat di Asia Tenggara.


Dasar kebijakan luar negeri Amerika Serikat adalah bahwa Soeharto akan melayani Washintong dengan cara yang serupa seperti Shah Iran. Amerika Serikat juga berharap bangsa itu akan berfungsi sebagai model untuk negara lainnya di wilayah itu. Washintong mendasari bagian dari strateginya pada asumsi keuntungan yang diperoleh di Indonesia mempunyai reaksi yang positif bagi seluruh dunia Islam, terutama di Timur Tengah yang mudah meledak. Dan jika itu bukan perangsang yang cukup, Indonesia memiliki banyak EMAS, BATU BARA, NIKEL, MINYAK hingga URANIUM. Tak seorang pun yakin tentang berapa banyak jumlah atau kualitas cadangannya. Tetapi, para petinggi Amerika Serikat dan juga para Korporat (pemilik industri) merasa gembira sekali akan hal itu.

Aku mulai membayangkan petualangan yang akan terjadi selanjutnya, Dalam bekerja untuk MAIN, aku akan menukarkan  gaya hidup peace crops yang keras dengan gaya hidup yang lebih mewah dan memesona.

Suatu hari pada tahun 1971, ketika aku tiba ditempat Claudine (rekan kerja) aku menemukan di atas meja makan kecilnya telah terhidang bermacam-macam keju, roti, dan ada sebotol anggur Beaujolais yang mahal. Dia bersulang untukku dan mengatakan "Selamat atas keberhasilanmu".

The New Rules of the World - John Pilger